Senin, 26 November 2012

BOLEH AKU BICARA DENGANMU ??



“Salam kenal namaku Dinda, aku tinggal di rumah kecil dibelakang sekolah,” ujarku pelan. Diam sejenak sebelum terdengar keributan kecil. Mendadak semua murid bertanya macam-macam, misalnya apa hobi dan bakatku, apa makanan favorit, kapan ultahnya, dan lain-lain. Ya, begitulah suasana perkenalanku di kelas XI IPA 2, kelasku yang baru. Setelah beberapa menit, akhirnya ibu Wenny, wali kelasku, berhasil mendiamkan seisi kelas dengan beberapa teriakan.
“Sudah! Sudah! Kalau mau kenalan lebih lanjut, sebaiknya ketika jam istirahat siang. Sekarang,mari kita lanjutkan pelajaran. Dinda, kamu duduk disebelah Aditya.”
Langsung terdengar erangan protes di seluruh ruangan. Aku berjalan dan  duduk di kursi yang ditunjuk ibu Wenny. Setelah mengeluarkan beberapa buku, aku menoleh untuk menyapa teman sebangkuku, dan langsung bertatatap muka dengannya. Matanya kecoklatan,  rambutnya  hitam, dan dari keseluruhan dia terlihat cakep hanya saja ekspresinya yang dingin sekali.
“Jangan menggangu pelajaranku.” Hanya itu yang dia ucapkan, dan jelas-jelas jauh dari kesan hangat dan menyambut. Aku hanya termanggu memandangnya , sebelum dengan jengkel kembali menghadap ke depan lagi.
Tampang sih boleh cakep. Tapi ini orang sangat dingin. Masa baru kenalan udah diberi ancaman! Sambil bersungut- sungut aku mengambil buku dan mulai memperhatikan pelajaran.
*****
“Krrrriiiiinnnngggg!!”
Akhirnya bel sekolah berbunyi juga. Sudah sedari tadi perutku merintih minta diisi. Aku mengeluarkan bekalku dan mulai memakannya sambil memperhatikan sekeliling. Tadi aku sudah berkenalan dengan beberapa cewek lain. Debbie yang tukang gossip dan Felicia yang kalem tapi bisa galak jika ingin. Menyenangkan mempunyai teman baru di sini.
Mendadak Debbie dan Feli mendekat dan duduk di sampingku. Mata mereka menyorot rasa ingin tahu, jadi aku menelan bekalku sebelum bertanya kepada mereka.
“Ada apa?”
“Gimana si Adit?” Tanya Debbie dengan mata berbinar-binar.
Aku berpikir sebentar “Dingin, belum juga kenalan sudah berseteru.” Dengusku.
Tapi Debbi dan Feli hanya cengar-cengir.” Tentu saja, dari dulu Adit itu orangnya gitu. Galak sama orang lain dan memberikan kesan tidak berteman. Tapi sebenarnya dia baik dan penyayang hewan. Gue pernah ngeliat dia nolongin anak anjing yang luka kakinya. Oooww.. he is so cute!” ujar Feli sambil tersenyum.
“sok inggris lu! Mentang-mentang nilainya bagus. Tapi gue setuju. Cowok yang terkesan misterius justru menarik” ujar Debbie menambahi kata-kata Feli.
Aku memutuskan bahwa sudah saatnya untuk mengganti topic. “Eh, gue dengar kelas ini mau ngadain acara  campingnya? Kapan?”
“Minggu depan. Oh ya, lu kan murid baru, jadi belum tahu. Nanti gue fotocopy in deh, daftar barang yang harus kamu bawa dan pengumuman penting lainnya.” Ujar Feli.
“Sip!” jawabku. Dan beberapa detik kemudian bel berbunyi nyaring, memanggil seluruh siswa untuk kembali ke dalam kelas. Sementara kelas mulai kembali rapi, Adit masuk ke dalam dan duduk. Tanpa sedikit pun menoleh atau mengucapkan salam. Aku hanya geleng-geleng kepala. Kok bisa cowok kaku kayak gitu banyak penggemar?!
*****
Panas tak berawan, sungguh hari yang cocok untuk aktivitas alam. Aku sibuk membangun sebuah tenda, dibantu dengan Debbie dan Feli dan dua anak cowok lainnya. Setelah satu jam akhirnya tenda itu selesai juga.
“Wah, cape banget!” keluh Debbie sambil menghempaskan dirinya ke sebuah kursi.
“Iya. Habis ini ada acara apa ya?” aku ingin tahu apa nanti masih ada kegiatan yang lebih menarik.
“Jalan lintas alam, mulai dari jam satu siang sampai selesai. Nanti dibagi berpasang- pasangan. Cewek sama cowok.” Feli menjelaskan.
“Wah! Mudah- mudahan pasanganku keren dan cakep. Contohnya kayak kapten klub futsal dan basket kita..” ujar Debbie mengebu-gebu.
Aku dan Feli hanya mendengus tertawa mendengar impian Debbie. Aku mendongak, menatap langit yang berwarna biru cerah. Jalan lintas alam.. kedengarannya menyenangkan. Tapi, mataku meredup ketika mengingat soal Adit. Aku teringat hari ketika aku melihatnya menolong anak burung yang jatuh dari pohon. Memang benar kata Feli, Adit penyayang hewan. Senyumnya ketika melihat burung kecil tersebut sudah aman  di sarangnya sangat menawan. Sayangnya, yang dia berikan padaku setipa hari hanyalah gerutuan dan senyuman yang masam.
*****
“Debbie, Rony!”
Terdengar suara ibu Wenny yang mulai memasangkan murid-murid untuk melakukan lintas alam. Terdengar sorak riang di sampingku. Debbie akhirnya mendapat impiannya. Rony adalah ketua klub futsal,yang pastinya sangat dikagumi cewek-cewek. Setelah aku mengucapkan selamat kepadanaya, dia berjalan ke tengah lapangan untuk bergabung dengan Rony. Bu Wenny member beberapa instruksi, kemudian menyuruh mereka pergi.
“Felicia, Felix”
Langsung terdengar suara tawa di lapangan tersebut. Tak disangka, Feli harus berpasangan dengan cowok yang merupakan rival beratnya di mata pelajaran. Persaingan mereka sudah terkenal diseluruh sekolah. Setelah mereka berdua saling melototi, mereka pun pergi menyusuri jalan yang diperintahkan.
“Dinda,Aditya”
Aku tersentak ketika namaku dipanggil, apalagi ketika nama Adit juga dipanggil. Kami berdua maju, dan setelah menerima instruksi dari ibu Wenny, kami berdua berjalan meninggalkan lapangan dan masuk kerimbunan hutan.
Berbeda dengan di lapangan, sekarang suasana hening. Baik aku maupun Adit diam tak bersuara. Hal itu tetap berlangsung sampai kami tiba di aor terjun. Bunyi gemuruh air terjun yang luar biasa keras memecah kasunyian itu. Kami memandang berkeliling,mencari petunjuk yang di tinggalkan oleh kakak pembimbing, tanpa memperdulikan yang lainnya.
Mendadak, terjadi kejadian yang sangat mengejutkan. Aku berhasil menemukan gulungan kertas yang terletak di sebuah batu pipih, dan ketika aku baru saja mengambilnya, sesuatu berwarna hitam meluncurbdari balik batu dan langsung menghadapku. Ular! Aku hanya bisa bergeming, karena siapa tahu ular agresif dan akan menyerang apa saja yang menurutnya mengancam. Sambil berdoa, aku melirik ke sekelilingku. Aku terpojok di pinggir air terjun, di belakangku hanya ada air yang berarus deras.
Kemudian, aku menangkap sebuah gerakan di sampingku. Adit! Kelihatannya dia sudah melihatku dan berusaha menolongku. Sambil menahan nafas, aku menyasikannya menyodok ular tersebut untuk mengalihkan perhatiannya, dan memberiku kesempatan untuk melarikan diri.
Aku berlari beberapa meter, sebelum menoleh ke belakang untuk mengecek situasi. Adit sedang berusaha untuk mundur, sambil menyodok ular yang kelihatannya mengamuk.anehnya, ular itu tetap mengejar bahkan ketika Adit sudah berhasil menjauh beberapa meter. Bingung antara melapor ke guru atau menolongnya, aku menjerit kecil ketika Adit tersandung dan jatuh.
Ular bergerak mengancam ke arahnya, kemudian menegakkan tubuhnya. Tanpa pikir panjang, aku menghampiri Adit dan langsung menendang kepala ular itu. Bukannya menjauh, ular itu malah makin mendesis liar. Aku langsung mendorong Adit, yang sudah berdiri lagi, kea rah lereng pendek di belakangnya.diiringi dengan teriakan kagetnya aku memandangnya terguling-guling kebawah. Mendadak terasa sengatan yang sangat perih di kakiku dan pandanganku menggelap.
*****
“Tit…tit…tit..”
Bunyi itu, sudah sedari tadi membuat kepalaku pusing. Aku terasa sangat lelahdan mengantuk, tapi aku juga ingin tahu diman sekarang aku berada. Aku terdiam selama beberapa saat, sebelum sedikit sedikit mulai membuka mataku. Putih, sinar putih yang sangat kuat menusuk mataku. Aku mengerjap-ngerjap beberapa kali, dan mulai mengenali ruangan tempat aku berada. Kasur putih,dinding putih, bahkan vas bungapun berwarna putih, dengan jendela yang mengahadap ke gunung. Kelihatannya aku berada di sebuah rumah sakit. Sambil berusaha mengingat kenapa aku bisa ada di sini, terdengar suara dengkuran halus di sampingku.
Aku menoleh dan melihat seorang cowok yang tertidur di sofa di sebelahku. Aku memandangnya sejenak sebelum menyadari dia adalah Adit. Wajahnya pucat dan terlihat lelah seperti kurang tidur. Aku tersenyum kecil melihatnya dalam posisi yang tidak cocok untuknya, tertidur pulas.
Aku menghabiskan waktu dengan membaca, sampai beberapa jam kemudian Adit menunjukkan tanda-tanda terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum bisa focus. Dia menoleh ke arahku dan terlihat sangat terkejut. Aku hanya member senyum kecil.
“Sudah bangun berapa lama?” ujarnya sambil bangun dan berjalan ke samping ranjangku.
“Sekitar 3 jam”
“Errr, soal kejadian itu, thanks ya. Aku yang nolongin malah aku yang ditolong” dia kelihatannya malu dengan dirinya sendiri.
No problem. Tapi kamu nggak apa-apa kan? Apa yang terjadi?”
“Setelah kamu mendorongku jatuh dari bukit,aku langsung bangun dan memanjat ke atas. Pas nyampe di atas kamu udah pingsan dan berdarah, dan ular itu udah pergi. Jadi aku langsung bawa kamu balik ke kemah, terus kamu diantar sama guru-guru ke sini.”
Diam sejenak, kemudian…
“Apa kamu suka hewan?” Tanya Adit ingin tahu.
“Ya. Bahkan mungkin aku bakal milih jurusan Biologi, soalnya cita-citaku jadi dokter hewan.”
“Sama dong dengan aku. Mungkin nanti kita bisa masuk ke universitas yang sama”
“hehe, lucu juga ya. Kita sama-sama pendiam dan sama-sama suka hewan, tapi tadinya kita saling mendiamkan satu sama lain.”
“Soal itu, maaf. Aku itu orangnya cuek sama orang yang belum aku kenal, pasti orang itu bakal aku diamkan. Tapi kalu mau jujur aku baru kali ini bisa ngomong senyaman ini denganmu.”
Mendengar perkataannya wajahku mulai tersipu malu. Kelihatannya dia juga grogi, karena detik berkutnya dia pamit dan pergi pulang. Katanya sih mau melapor ke ibu Wenny soal kondisiku. ‘Hmmm, kapan ya bisa ngobrol enak kayak gini lagi…’, pikirkudengan senyum dikulum. 
*****
      Di sekolah beberapa minggu kemudian…
      “Dinda!”
      aku menoleh dan menyadari bahwa Adit yang sedang memanggilku. Dia terlihat gugup, jadi aku yang menghampirinya.
“Boleh aku bicara denganmu?”
“Boleh, tentang apa?”
“Nanti malam mau pergi nonton bareng?”
“Sama siapa?”
“Berdua saja”
Aku terkejut mendengar perkataannya, sebelum mengganguk pelan.
“Okey, sampai jumpa nanti jam 7 malam. Aku yang jemput.” Lalu dia langsung bergegas pergi.
“Wah, ada apa ini? Tumben kalian dekat?” mendadak Debbie dan Feli menghampiriku sambil cengar-cengir. Kelihatannya mereka menguping. Dengan muka memerah, aku hanya berjalan menjauhi mereka seraya menlambaikan tangan.
‘Ah, hari-hari berikutnya akan sangat indah!’ bisikku dengan hati yang berbunga-bunga seraya melangkah pergi dengan lompatan dengan langkah-langkah seperti menari.’Ahaaiii’ aku tak kuasa menahan senyum lebarku lagi………………THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar