“Salam kenal namaku Dinda, aku tinggal di rumah
kecil dibelakang sekolah,” ujarku pelan. Diam sejenak sebelum terdengar
keributan kecil. Mendadak semua murid bertanya macam-macam, misalnya apa hobi
dan bakatku, apa makanan favorit, kapan ultahnya, dan lain-lain. Ya, begitulah
suasana perkenalanku di kelas XI IPA 2, kelasku yang baru. Setelah beberapa menit, akhirnya ibu
Wenny, wali kelasku, berhasil mendiamkan seisi kelas dengan beberapa teriakan.
“Sudah! Sudah! Kalau mau kenalan lebih lanjut,
sebaiknya ketika jam istirahat siang. Sekarang,mari kita lanjutkan pelajaran.
Dinda, kamu duduk disebelah Aditya.”
Langsung terdengar erangan protes di seluruh ruangan. Aku
berjalan dan duduk di kursi yang
ditunjuk ibu Wenny. Setelah mengeluarkan beberapa buku, aku menoleh untuk
menyapa teman sebangkuku, dan langsung bertatatap muka dengannya. Matanya
kecoklatan, rambutnya hitam, dan dari keseluruhan dia terlihat
cakep hanya saja ekspresinya yang dingin sekali.
“Jangan menggangu pelajaranku.” Hanya itu yang
dia ucapkan, dan jelas-jelas jauh dari kesan hangat dan menyambut. Aku hanya
termanggu memandangnya , sebelum dengan jengkel kembali menghadap ke depan
lagi.
Tampang sih boleh cakep. Tapi ini orang sangat
dingin. Masa baru kenalan udah diberi ancaman! Sambil bersungut- sungut aku
mengambil buku dan mulai memperhatikan pelajaran.
*****
“Krrrriiiiinnnngggg!!”
Akhirnya bel sekolah berbunyi juga. Sudah
sedari tadi perutku merintih minta diisi. Aku mengeluarkan bekalku dan mulai
memakannya sambil memperhatikan sekeliling. Tadi aku sudah berkenalan dengan
beberapa cewek lain. Debbie yang tukang gossip dan Felicia yang kalem tapi bisa
galak jika ingin. Menyenangkan mempunyai teman baru di sini.
Mendadak Debbie dan Feli mendekat dan duduk di
sampingku. Mata mereka menyorot rasa ingin tahu, jadi aku menelan bekalku
sebelum bertanya kepada mereka.
“Ada apa?”
“Gimana si Adit?” Tanya Debbie dengan mata
berbinar-binar.
Aku berpikir sebentar “Dingin, belum juga
kenalan sudah berseteru.” Dengusku.
Tapi Debbi dan Feli hanya cengar-cengir.” Tentu
saja, dari dulu Adit itu orangnya gitu. Galak sama orang lain dan memberikan
kesan tidak berteman. Tapi sebenarnya dia baik dan penyayang hewan. Gue pernah
ngeliat dia nolongin anak anjing yang luka kakinya. Oooww.. he is so cute!” ujar Feli sambil
tersenyum.
“sok inggris lu! Mentang-mentang nilainya
bagus. Tapi gue setuju. Cowok yang terkesan misterius justru menarik” ujar
Debbie menambahi kata-kata Feli.
Aku memutuskan bahwa sudah saatnya untuk
mengganti topic. “Eh, gue dengar kelas ini mau ngadain acara campingnya? Kapan?”
“Minggu depan. Oh ya, lu kan murid baru, jadi
belum tahu. Nanti gue fotocopy in deh, daftar barang yang harus kamu bawa dan
pengumuman penting lainnya.” Ujar Feli.
“Sip!” jawabku. Dan beberapa detik kemudian bel
berbunyi nyaring, memanggil seluruh siswa untuk kembali ke dalam kelas.
Sementara kelas mulai kembali rapi, Adit masuk ke dalam dan duduk. Tanpa
sedikit pun menoleh atau mengucapkan salam. Aku hanya geleng-geleng kepala. Kok
bisa cowok kaku kayak gitu banyak penggemar?!
*****
Panas tak berawan, sungguh hari yang cocok
untuk aktivitas alam. Aku sibuk membangun sebuah tenda, dibantu dengan Debbie
dan Feli dan dua anak cowok lainnya. Setelah satu jam akhirnya tenda itu selesai
juga.
“Wah, cape banget!” keluh Debbie sambil
menghempaskan dirinya ke sebuah kursi.
“Iya. Habis ini ada acara apa ya?” aku ingin
tahu apa nanti masih ada kegiatan yang lebih menarik.
“Jalan lintas alam, mulai dari jam satu siang
sampai selesai. Nanti dibagi berpasang- pasangan. Cewek sama cowok.” Feli
menjelaskan.
“Wah! Mudah- mudahan pasanganku keren dan
cakep. Contohnya kayak kapten klub futsal dan basket kita..” ujar Debbie
mengebu-gebu.
Aku dan Feli hanya mendengus tertawa mendengar
impian Debbie. Aku mendongak, menatap langit yang berwarna biru cerah. Jalan
lintas alam.. kedengarannya menyenangkan. Tapi, mataku meredup ketika mengingat
soal Adit. Aku teringat hari ketika aku melihatnya menolong anak burung yang
jatuh dari pohon. Memang benar kata Feli, Adit penyayang hewan. Senyumnya
ketika melihat burung kecil tersebut sudah aman
di sarangnya sangat menawan. Sayangnya, yang dia berikan padaku setipa
hari hanyalah gerutuan dan senyuman yang masam.
*****
“Debbie, Rony!”
Terdengar suara ibu Wenny yang mulai
memasangkan murid-murid untuk melakukan lintas alam. Terdengar sorak riang di
sampingku. Debbie akhirnya mendapat impiannya. Rony adalah ketua klub
futsal,yang pastinya sangat dikagumi cewek-cewek. Setelah aku mengucapkan
selamat kepadanaya, dia berjalan ke tengah lapangan untuk bergabung dengan
Rony. Bu Wenny member beberapa instruksi, kemudian menyuruh mereka pergi.
“Felicia, Felix”
Langsung terdengar suara tawa di lapangan
tersebut. Tak disangka, Feli harus berpasangan dengan cowok yang merupakan
rival beratnya di mata pelajaran. Persaingan mereka sudah terkenal diseluruh
sekolah. Setelah mereka berdua saling melototi, mereka pun pergi menyusuri
jalan yang diperintahkan.
“Dinda,Aditya”
Aku tersentak ketika namaku dipanggil, apalagi
ketika nama Adit juga dipanggil. Kami berdua maju, dan setelah menerima
instruksi dari ibu Wenny, kami berdua berjalan meninggalkan lapangan dan masuk
kerimbunan hutan.
Berbeda dengan di lapangan, sekarang suasana
hening. Baik aku maupun Adit diam tak bersuara. Hal itu tetap berlangsung
sampai kami tiba di aor terjun. Bunyi gemuruh air terjun yang luar biasa keras
memecah kasunyian itu. Kami memandang berkeliling,mencari petunjuk yang di
tinggalkan oleh kakak pembimbing, tanpa memperdulikan yang lainnya.
Mendadak, terjadi kejadian yang sangat
mengejutkan. Aku berhasil menemukan gulungan kertas yang terletak di sebuah
batu pipih, dan ketika aku baru saja mengambilnya, sesuatu berwarna hitam
meluncurbdari balik batu dan langsung menghadapku. Ular! Aku hanya bisa
bergeming, karena siapa tahu ular agresif dan akan menyerang apa saja yang
menurutnya mengancam. Sambil berdoa, aku melirik ke sekelilingku. Aku terpojok
di pinggir air terjun, di belakangku hanya ada air yang berarus deras.
Kemudian, aku menangkap sebuah gerakan di
sampingku. Adit! Kelihatannya dia sudah melihatku dan berusaha menolongku.
Sambil menahan nafas, aku menyasikannya menyodok ular tersebut untuk
mengalihkan perhatiannya, dan memberiku kesempatan untuk melarikan diri.
Aku berlari beberapa meter, sebelum menoleh ke
belakang untuk mengecek situasi. Adit sedang berusaha untuk mundur, sambil
menyodok ular yang kelihatannya mengamuk.anehnya, ular itu tetap mengejar bahkan
ketika Adit sudah berhasil menjauh beberapa meter. Bingung antara melapor ke
guru atau menolongnya, aku menjerit kecil ketika Adit tersandung dan jatuh.
Ular bergerak mengancam ke arahnya, kemudian
menegakkan tubuhnya. Tanpa pikir panjang, aku menghampiri Adit dan langsung
menendang kepala ular itu. Bukannya menjauh, ular itu malah makin mendesis
liar. Aku langsung mendorong Adit, yang sudah berdiri lagi, kea rah lereng
pendek di belakangnya.diiringi dengan teriakan kagetnya aku memandangnya
terguling-guling kebawah. Mendadak terasa sengatan yang sangat perih di kakiku
dan pandanganku menggelap.
*****
“Tit…tit…tit..”
Bunyi itu, sudah sedari tadi membuat kepalaku
pusing. Aku terasa sangat lelahdan mengantuk, tapi aku juga ingin tahu diman
sekarang aku berada. Aku terdiam selama beberapa saat, sebelum sedikit sedikit
mulai membuka mataku. Putih, sinar putih yang sangat kuat menusuk mataku. Aku
mengerjap-ngerjap beberapa kali, dan mulai mengenali ruangan tempat aku berada.
Kasur putih,dinding putih, bahkan vas bungapun berwarna putih, dengan jendela
yang mengahadap ke gunung. Kelihatannya aku berada di sebuah rumah sakit.
Sambil berusaha mengingat kenapa aku bisa ada di sini, terdengar suara
dengkuran halus di sampingku.
Aku menoleh dan melihat seorang cowok yang
tertidur di sofa di sebelahku. Aku memandangnya sejenak sebelum menyadari dia
adalah Adit. Wajahnya pucat dan terlihat lelah seperti kurang tidur. Aku
tersenyum kecil melihatnya dalam posisi yang tidak cocok untuknya, tertidur
pulas.
Aku menghabiskan waktu dengan membaca, sampai
beberapa jam kemudian Adit menunjukkan tanda-tanda terbangun. Matanya mengerjap
beberapa kali sebelum bisa focus. Dia menoleh ke arahku dan terlihat sangat
terkejut. Aku hanya member senyum kecil.
“Sudah bangun berapa lama?” ujarnya sambil
bangun dan berjalan ke samping ranjangku.
“Sekitar 3 jam”
“Errr, soal kejadian itu, thanks ya. Aku yang nolongin malah aku yang ditolong” dia
kelihatannya malu dengan dirinya sendiri.
“No
problem. Tapi kamu nggak apa-apa kan? Apa yang terjadi?”
“Setelah kamu mendorongku jatuh dari bukit,aku
langsung bangun dan memanjat ke atas. Pas nyampe di atas kamu udah pingsan dan
berdarah, dan ular itu udah pergi. Jadi aku langsung bawa kamu balik ke kemah,
terus kamu diantar sama guru-guru ke sini.”
Diam sejenak, kemudian…
“Apa kamu suka hewan?” Tanya Adit ingin tahu.
“Ya. Bahkan mungkin aku bakal milih jurusan
Biologi, soalnya cita-citaku jadi dokter hewan.”
“Sama dong dengan aku. Mungkin nanti kita bisa
masuk ke universitas yang sama”
“hehe, lucu juga ya. Kita sama-sama pendiam dan
sama-sama suka hewan, tapi tadinya kita saling mendiamkan satu sama lain.”
“Soal itu, maaf. Aku itu orangnya cuek sama
orang yang belum aku kenal, pasti orang itu bakal aku diamkan. Tapi kalu mau
jujur aku baru kali ini bisa ngomong senyaman ini denganmu.”
Mendengar perkataannya wajahku mulai tersipu
malu. Kelihatannya dia juga grogi, karena detik berkutnya dia pamit dan pergi
pulang. Katanya sih mau melapor ke ibu Wenny soal kondisiku. ‘Hmmm, kapan ya
bisa ngobrol enak kayak gini lagi…’, pikirkudengan senyum dikulum.
*****
Di sekolah beberapa
minggu kemudian…
“Dinda!”
aku menoleh dan menyadari bahwa Adit yang sedang memanggilku. Dia terlihat gugup, jadi aku yang menghampirinya.
aku menoleh dan menyadari bahwa Adit yang sedang memanggilku. Dia terlihat gugup, jadi aku yang menghampirinya.
“Boleh aku bicara denganmu?”
“Boleh, tentang apa?”
“Nanti malam mau pergi nonton bareng?”
“Sama siapa?”
“Berdua saja”
Aku terkejut mendengar perkataannya, sebelum
mengganguk pelan.
“Okey, sampai jumpa nanti jam 7 malam. Aku yang
jemput.” Lalu dia langsung bergegas pergi.
“Wah, ada apa ini? Tumben kalian dekat?”
mendadak Debbie dan Feli menghampiriku sambil cengar-cengir. Kelihatannya
mereka menguping. Dengan muka memerah, aku hanya berjalan menjauhi mereka
seraya menlambaikan tangan.
‘Ah, hari-hari berikutnya akan sangat indah!’
bisikku dengan hati yang berbunga-bunga seraya melangkah pergi dengan lompatan
dengan langkah-langkah seperti menari.’Ahaaiii’ aku tak kuasa menahan senyum
lebarku lagi………………THE END
Tidak ada komentar:
Posting Komentar