Senin, 26 November 2012

Mencari entah apa berlari entah untuk apa, ratusan persimpangan dilewati lalu diabaikan, hingga kerinduan menjelma menjadi bayangan selama perjalanan ♥(>̯┌┐<)•°

“Ketika Zizi Jatuh Cinta ”



Siang itu matahari begitu terik sehingga terasa panas sinarnya menyentuh kulit Zizi yang sudah hitam dari sananya.
“Lama banget sih busnya?” gerutu Zizi sembari tangannya tak berhenti kipas-kipas.
Sebuah ninja berhenti di depannya.
“ Ayo naik !” suruh si empunya ninja. Tanpa pikir panjang Zizi nangkring di jok belakang. Hati Zizi berdebar-debar. Khayalannya melayang jauh tinggi padahal sepanjang jalan cowok itu diam seribu bahasa, tak mengajak ngobrol sama sekali seolah mengacuhkannya. Tapi Zizi tak peduli, dia tetap happy apalagi hatinya tidak henti-hentinya menyanyikan lagu Titik Puspa…”jatuh cinta berjuta rasanya… dipeluk dibelai aduh…amboi….. asyiknya…” tak ayal sepanjang jalan Zizi senyam senyum sendiri persis seperti orang gila.
Magnet cinta memang dasyat kekuatannya merasuk ke jiwa para insane yang lagi dimabuk cinta. Tak terkecuali Zizi, kejadian dibonceng ninja sepulang sekolah kemarin belum membuatnya siuman dari mimpi-mimpinya di siang bolong.
“Kamu kenapa sih Zi? Senyam senyum sendiri kaya orang gila ?” Tanya Tania heran dengan sikap sahabatnya yang tak seperti biasanya.
“ Oh Anjar…,” teriak histeris Zizi memanggil nama pemilik ninja.
“ Eh yang lagi jatuh cinta , sampe segitunya” goda Tania
“ Tau nggak kamu, kemarin aku pulang di bonceng sama Anjar pake ninja. Ih, dia tambah keren aja kalo dilihat dari deket.” Cerita Zizi berbunga-bunga.
“Baru aja dibonceng udah kaya dapet durian runtuh aja. Bagaiman kalo di peluk, bisa pingsan,” komen Tania menggoda.
“Mau,mau,mau dipeluk sama Anjar ,” jawab Zizi girang. “Kalau Anjar peluk aku, gak bakal aku lepas” tambah semangat
“Akhirnya setelah tiga tahun aku nyimpen cinta buat dia, hari ini menemukan titik terang, kayaknya ada harapan buat aku dapetin anjar” cerita Zizi optimis.
“Bisa juga sih Zi. Jarang-jarang si Anjar boncengin cewek apalagi dia anti yang namanya cewek, tapi hati-hati soalnya gak sedikit yang suka sama dia. Surat cintanya aja numpuk di kamarnya” keterangan Tania sedikit menciutkan tekad Zizi.
“Banyak saingan dong?” Tanya Zizi pesimis.
“Tenang, kemungkinan cinta kamu nggak bertepuk sebelah tangan soalnya dia bilang kemaren kalau dia suka sama cewek yang rumah paling ujung” jelas Tania membuat Zizi geer.
“Kenapa dia suka sama itu cewek?”
“Karena kamu orangnya ga neko-neko”
“Kok kamu bisa bilang dia suka sama aku? Kamu Cuma bikin aku geer doang ya?”
“Ngapain bikin kamu geer , nggak ada untungnya . lagian rumah yang paling ujung siapa? Rumah nenek kamu kan dan siapa yang masih gadis di rumah nenek kamu siapa? Kamu kan?”
“Bener Anjar ngomong gitu?”Tanya Zizi berbinar-binar. “Tapi dari mana kamu tau?” kening Zizi berkerut.
“ Aku ini masih saudara jauh sama Anjar.kemarin waktu lebaran keluarga besar kita kan kumpul.”
“Kalau begitu kamu bisa dong comblangin aku sama dia?” pinta Zizi berharap.
“Gampang kalu itu bisa di atur.” Jawaban Tania bikin Zizi senang bukan kepalang.
Sejak itu obrolan Tania dan Zizi tak lepas dari sosok seorang Anjar. Rupanya Zizi ingin banyak tau tentang pujaan hatinya.dengan senang hati Tania bercerita tentang kepribadian dan kehidupan Anjar dan Zizi tidak pernah sungkan bercerita seberapa besar cintanya untuk Anjar.
“Sebentar lagi kamu bakal lulus sekolah ini. Terus dengar-dengar kamu mau ngelanjutin SMA di Jakarta. Mending sebelum pergi kamu utarain perasaan kamu sama Anjar deh!” usulan Tania yang tak segera diiyakan oleh Zizi
“ Tapi aku nggak kenal sama dia. Aku banyak tau tentang dia itu juga lewat kamu. Ngobrol empat mata sama dia aja nggak pernah, gimana aku utarain cinta ke dia, bisa-bisa dia binggung dan ketawa lagi.” jawab Zizi pesimis.
“Malu kali kalau cewek dulu yang ngutarain cinta” tambah Zizi lagi.
“Zaman sekarang mah siapa yang cepat dia yang dapet. Gak perlu gengsi, udah lumrah kali cewek duluan yang nembak cowok” ujar Tania menimpali.
“Kalau kamu nggak berani ngomong langsung , lewat surat juga nggak masalah,” tambah Tania menawarkan alternative lainnya.
“ Kalu di anggak baca gimana? Itu tandanya aku di tolak mentah-mentah dong?”jawab Zizi tentang usulan Tania.
“”Belum dicoba udah pesimis payah kamu.nggak ada salahnya dicoba usul aku tadi” desak Tania mengobarkan semangat Zizi.
“Benar juga kata Tania,kalau aku nggak ngungkapin isi hatiku ke Anjar gimana dia tahu kalau aku suka padanya?”
Sesampainya di rumah , Zizi terus menimbang-nimbang saran Tania.
“Siapa tau gayung bersambut? Siapa tau saja Anjar juga suka padaku. Dari cerita Tania saja sepertinya harapan aku dapat Anjar lebih besar daripada cintaku ditolak,” gumamnya lagi. serta merta Zizi mengambil secarik kertas dan menuangkan semua isi hatinya yang sudah terpendam tiga tahun ini pada Anjar,cowok pertama yang berhasil mencuri hatinya.
“Dear Anjar”
Pertama kali aku mengenalmu
Aku sudah yakin kamu pribadi yang sederhana meski kamu anak orang punya
Berteman tanpa membedakan status
Dan satu lagi hal yang paling aku suka dari kamu adalah kamu selalu ada buat
sahabat- sahabat kamu….
Jakarta, kota baru untuk kehidupan Zizi. Demi untuk mengejar cita-citanya Zizi rela melepaskan sejenak pesona Anjar dan kisah cintanya yang saat ini belum terjawab, masih menggantung.
Tak terasa satu semester sudah berlalu. Dengan lancarZizi melalui hari-harinya di Jakarta yang sempit dengan suka cita.
“Liburan sekolah ini lo mau kemana Zi?” Tanya Dwiyanto sepulang mengambil raport.
“Aku mau pulang kampung kangen sama nenek,”
“Kayaknya asyik juga liburan dikampung lo? Lagian kan cewek gue kan orang kampung lo, gue ikut ya?”
“Cewekmu anak kampung aku?”Zizi mengerutkan keningnya “Siapa?” Tanya Zizi penasaran.
“Novi Anggraini,kenalkan lo sama dia?”
“O.. Novi kembang kampung,to? Siapa yang nggak kenal dia, hampir semua orang di kampung aku kenal dia, apalagi cowok-cowoknya. Ya sudah, ntar kamu nginep di tempatku aja!!!!!” Zizi ngasih penawaran.
“Oke coy,” jawab Dwi sumringah. “Les’t go naik!” Dwi menyuruhZizi naik di belakang jok motornya.
Hawa dingin, aroma tanah,kicau burung yang bersahut-sahutandan udara yang masih bersih alami menyambung kepulangan Zizi ke kampung halamannya. Saudara-saudarayang care sama dia,suara gaduh keponakan-keponakannya yang rata-rata masih balita.peluk hangat dari nenek tersayang dan juga senyum bersahaja dari budenya turut mengobati rasa rindunya pada kampung halamannya. Sedangkan kerinduannya pada Anjar, cinta pertamanya selalu terpendam di dalam hatinya.makanya siang itu ketika Dwi ngapel ke rumah Novi,Zizi segera ke rumah Tania. Daia ingin segera tau tentang Anjar dan dia juga penasaran kenapa surat cintanya tidak juga dibalas setelah sekian bulan dikirim.
“Assamualaikum” seru Zizi di depan pintu rumah Tania. Seorang cewek bertubuh mungil dengan senyum indah dan menyambutnya dengan senyum.
“Walaikumsalam,Zi kapan datang?”dua sahabat itu saling berpelukkan.”duduk Zi!”
Di kursi panjang, halaman rumah Tania. Dua sahabat itu bernostalgia, bercerita berbagi kerinduan dan pengalaman. Sampai juga obrolan mereka pada sosok Anjar.
“Gimana kabar Anjar?”
“Baik, sekarang dia kuliah di UNS. Kamu sendiri bagaiman, udah dapet penggati Anjar?” pertanyaan Tania mengejutkan Zizi.
“Pengganti Anjar? Maksud kamu?”Tanya Zizi kemudian dengan mengerutkan kening.Tania salah tingkah dengan pertanyaan ZIzi dan sikap Tania malah membuat Zizi curiga.
“Ada apa sebenernya, nia? Apa Anjar sudah punya pacar?”selidik Zizi. Dan ketika pertanyaannya diiyakan Tania, Zizi menghela nafas kecewa.
“Oh.. ini alasannya suratku nggak di balas sama Anjar?”
“Maafin aku Zi, kalo aku nggak mau cerita sama kamu,aku nggak mau ngelihat kamu patah hati makanya aku cari waktu yang tepat untuk certain ini ke kamu. Tapi belum sempat aku ngirim surat ke Jakarta kamu udah pulang duluan”
“To the poin aja nia, sebenernya ada apa?” potong Zizi sabar.
“Sebenernya seminggu sesudah kepergian kamu ke Jakarta , Anjar nembak aku” pengakuan jujur dari Tania membuat hati Zizi hancur berkeping-keoing dan mukanya merah menahan amarah.
“Aku tau aku salah tapi jujur aku juga sayang sama Anjar, jadi waktu dia nembak aku aku langsung mengiyakan aja.”
“Kalau kamu sayang sama dia kenapa nggak cerita dari awal?” Tanya Zizi tak ingin marah.
“Saat itu mata kamu berbinar-binar saat bercerita tentang Anjar. Makanya aku nggak mau menghancurkan mimpi-mimpi cinta pertamamu “ jawab Tania membela diri.
“Tapi sekarang semua ini artinya apa? Bukannya sama aja menghancurkan mimpi-mimpiku? Bahkan selama enam bulan ini kamu dan Anjar memberikan aku harapan kosong,” tandas Zizi menahan perih “aku pulang” pamit Zizi. Tania mencegah langkah Zizi.
“Tunggusebentar!” Tania masuk ke dalam rumah dan kembali keluar dengan membawa sebuah kado.
“Ini kado dari aku dan Anjar sebagai permohonan maaf. Semoga kamu bisa nerimannya”
Waktu yang pandai menipu begitu cepat berlalu. Tak terasa libur panjang di kampung telah usai. Kini saatnya come back to Jakarta guna menuntut ilmu dan meraih mimpi.
“Wi, Novi pake jilbabkan? Ni buat novi aja, belum di pake kok masih baru” Zizi melem par kado dari Tania dan Anjar yang berupa kemeja panjang ke Dwi.
”Lho kok nggak di pake?”
“Nggak, gue gerah pake baju panjang,” jawab Zizi enteng.
Jam lima pagi Zizi dan Dwi tiba di Jakarta. Bau busuk comberan, tempat kumuh dansempit, udara kotor dankemacetan serta kebisingan ibukota Jakarta siap jadi santapan Zizi setiap hari. Kini Zizi harus bisa melupakan kisah cinta pertamanya yang harus kandas di tangan sahabatnya sendiri. Dan dari kisah ini pula Zizi belajar untuk tidak sembarangan mengungkapakan isi hatinya kepada siapapun baik itu sahabat baiknya sendiri karena dia beranggapan nggak semua sahabatnya itu menyayanginya.
Seiring berjalannya waktu ternyata persahabatan Zizi dan Dwi menghadirkan benih – benih aneh dihati Zizi. Persahatan yang dimulai dari curhat,belajar bareng, berdiskusi mata pelajaran telah menghadirkan rasa simpati Zizi pada seorang sosok Dwiyanto. Meski Zizi sudah berkali-kali berganti pacar tapi tak sedikitpun mengurangi rasa cinta Zizi dan Dwi. Belajar dari kegagalan cinta pertamanya, Zizi lebih suka memendam rasa itu sendirian tanpa membaginya kepada orang lain.sampai pada suatu sore, seorang sahabatnya yang duduk di bangku kuliah, sore itu menghampiri Zizi di rumah kontrakkanny yang sempit.
“Tumben mbak Melati ke belakang? Ada apa?” Tanya Zizi heran dengan kedatangan Melati
“Dwi udah pulang belum?” Tanya Melati yang ikut duduk di bangku depan rumah Dwi.
“Belum, memang ada apa dengan Dwi mbak?” Tanya Zizi khawatir.
“ Tadi kan gue kuliah dianter sama Dwi, nah pas pulang katanya dia mau jemput, gue bilang aja gue pulang jam tujuh tapi karena dosen gue nggak dateng jadi gue pulang cepet,” jelas Melati.
“ Ya sudah mab atunggu ajaDwi di sini sembari ngobrol-ngobrol sam aaku”bujukan Zizi diiyakan Melati. Cukup lama juga Melati nungguin lo” tambah Zizi dengan raut muka menggoda.
“O iya?” Tanya Dwi geer.
“Biasa aja kali” tambah Melati jaga gengsi.”Tapi kalau tiap hari di anter jemput mau juga sih,irit ongkos” tambah Melati dengan berselloroh.
“Tenang aja kalau Cuma antar jemput nggak masalah. Lo mau ke mana aja gue siap anter kok” ujar Dwi berapi-api.
“Masa sih, ntar ada yang marah lagi” goda Melati.
“Siapa yang marah? Novi? gue sekarang jomblo kali Mel.”
“Sama dong gue juga jomblo.mau nggak jadi cowok gue?” pernyataan cinta Melati yang tak terduga itu spontan membuat jantung Dwi hampir copot. Apalagi jantung Zizi. Terasa Zizi bagai disambar petir di siang bolong.
“Lo jangan becanda Mel!” muka Dwi memerah menahan malu.
“Siapa juga yang bercanda, gue serius kok” jawab Melati mempertegas ucapannya. ”gimana cinta gue diterima nggak?”
“Gue baru sekali ini ditembak cewek. Dimana-manakan cowok yang nembak duluan.”
“Kalau nungguin lo kelamaan, lo kan orangnya pemalu,”jawab melati enteng.” Gimana lo terima cinta gue nggak?” desak Melati pada Dwi. Sebelum menjawab Dwi mwnatap Zizi sejenak. Zizi tersenyum, seolahdia mengiyakan hubungan itu tapi sebenarnya hatinya benar-benar perih.
“Okelah kalau begitu, tapi lo harus nerima gue apa adanya ya!” Dwi meraih jemari Melati dan menciumnya.
Adegan mesra di depan mata itu kembali membuat hati Zizi hancur berkeping-keping.untuk kedua kalinya nasib cinta Zizi harus berakhir di tangan sahabatnya sendiri. Tapi ini bukan kesalahan Melati yang satu langkah lebih berani mengungkapkan cintanya kepada Dwi. Atau mungkin keadaan yang nggak berpihak pada cinta Zizi? Selama ini nggak ada yang tahu kalau Zizi memendam rasa pada Dwi begitu pun melati. Setahu melati Zizi dan Dwi hanya bersahabat.
Ku tlah meliki rasa indahnya perihku
Rasa hancurnya harapku
Kau lepas cintaku…..
Rasakan abadi sekalipun kau mengerti
Sekalipun kau pahami
Kupikirku salah mengertimu
Ho… ooo aku hanya ingin kau tau
Besarnya cintaku tingginya hayalku bersamamu….
Kulalui waktu yang tersisa kini
Disetiap hariku disisa akhir nafas hidupku..
Ho..owow…
Hanya lagu Republik itu yang tersisa untuk menggambarka perasaannya pada Dwi,sahabatnya. Ternyata jatuh cinta tak selamanya indah. Kadang harus menuai luka yang mendalam.
…………………………<3<3<3……………………………….

BOLEH AKU BICARA DENGANMU ??



“Salam kenal namaku Dinda, aku tinggal di rumah kecil dibelakang sekolah,” ujarku pelan. Diam sejenak sebelum terdengar keributan kecil. Mendadak semua murid bertanya macam-macam, misalnya apa hobi dan bakatku, apa makanan favorit, kapan ultahnya, dan lain-lain. Ya, begitulah suasana perkenalanku di kelas XI IPA 2, kelasku yang baru. Setelah beberapa menit, akhirnya ibu Wenny, wali kelasku, berhasil mendiamkan seisi kelas dengan beberapa teriakan.
“Sudah! Sudah! Kalau mau kenalan lebih lanjut, sebaiknya ketika jam istirahat siang. Sekarang,mari kita lanjutkan pelajaran. Dinda, kamu duduk disebelah Aditya.”
Langsung terdengar erangan protes di seluruh ruangan. Aku berjalan dan  duduk di kursi yang ditunjuk ibu Wenny. Setelah mengeluarkan beberapa buku, aku menoleh untuk menyapa teman sebangkuku, dan langsung bertatatap muka dengannya. Matanya kecoklatan,  rambutnya  hitam, dan dari keseluruhan dia terlihat cakep hanya saja ekspresinya yang dingin sekali.
“Jangan menggangu pelajaranku.” Hanya itu yang dia ucapkan, dan jelas-jelas jauh dari kesan hangat dan menyambut. Aku hanya termanggu memandangnya , sebelum dengan jengkel kembali menghadap ke depan lagi.
Tampang sih boleh cakep. Tapi ini orang sangat dingin. Masa baru kenalan udah diberi ancaman! Sambil bersungut- sungut aku mengambil buku dan mulai memperhatikan pelajaran.
*****
“Krrrriiiiinnnngggg!!”
Akhirnya bel sekolah berbunyi juga. Sudah sedari tadi perutku merintih minta diisi. Aku mengeluarkan bekalku dan mulai memakannya sambil memperhatikan sekeliling. Tadi aku sudah berkenalan dengan beberapa cewek lain. Debbie yang tukang gossip dan Felicia yang kalem tapi bisa galak jika ingin. Menyenangkan mempunyai teman baru di sini.
Mendadak Debbie dan Feli mendekat dan duduk di sampingku. Mata mereka menyorot rasa ingin tahu, jadi aku menelan bekalku sebelum bertanya kepada mereka.
“Ada apa?”
“Gimana si Adit?” Tanya Debbie dengan mata berbinar-binar.
Aku berpikir sebentar “Dingin, belum juga kenalan sudah berseteru.” Dengusku.
Tapi Debbi dan Feli hanya cengar-cengir.” Tentu saja, dari dulu Adit itu orangnya gitu. Galak sama orang lain dan memberikan kesan tidak berteman. Tapi sebenarnya dia baik dan penyayang hewan. Gue pernah ngeliat dia nolongin anak anjing yang luka kakinya. Oooww.. he is so cute!” ujar Feli sambil tersenyum.
“sok inggris lu! Mentang-mentang nilainya bagus. Tapi gue setuju. Cowok yang terkesan misterius justru menarik” ujar Debbie menambahi kata-kata Feli.
Aku memutuskan bahwa sudah saatnya untuk mengganti topic. “Eh, gue dengar kelas ini mau ngadain acara  campingnya? Kapan?”
“Minggu depan. Oh ya, lu kan murid baru, jadi belum tahu. Nanti gue fotocopy in deh, daftar barang yang harus kamu bawa dan pengumuman penting lainnya.” Ujar Feli.
“Sip!” jawabku. Dan beberapa detik kemudian bel berbunyi nyaring, memanggil seluruh siswa untuk kembali ke dalam kelas. Sementara kelas mulai kembali rapi, Adit masuk ke dalam dan duduk. Tanpa sedikit pun menoleh atau mengucapkan salam. Aku hanya geleng-geleng kepala. Kok bisa cowok kaku kayak gitu banyak penggemar?!
*****
Panas tak berawan, sungguh hari yang cocok untuk aktivitas alam. Aku sibuk membangun sebuah tenda, dibantu dengan Debbie dan Feli dan dua anak cowok lainnya. Setelah satu jam akhirnya tenda itu selesai juga.
“Wah, cape banget!” keluh Debbie sambil menghempaskan dirinya ke sebuah kursi.
“Iya. Habis ini ada acara apa ya?” aku ingin tahu apa nanti masih ada kegiatan yang lebih menarik.
“Jalan lintas alam, mulai dari jam satu siang sampai selesai. Nanti dibagi berpasang- pasangan. Cewek sama cowok.” Feli menjelaskan.
“Wah! Mudah- mudahan pasanganku keren dan cakep. Contohnya kayak kapten klub futsal dan basket kita..” ujar Debbie mengebu-gebu.
Aku dan Feli hanya mendengus tertawa mendengar impian Debbie. Aku mendongak, menatap langit yang berwarna biru cerah. Jalan lintas alam.. kedengarannya menyenangkan. Tapi, mataku meredup ketika mengingat soal Adit. Aku teringat hari ketika aku melihatnya menolong anak burung yang jatuh dari pohon. Memang benar kata Feli, Adit penyayang hewan. Senyumnya ketika melihat burung kecil tersebut sudah aman  di sarangnya sangat menawan. Sayangnya, yang dia berikan padaku setipa hari hanyalah gerutuan dan senyuman yang masam.
*****
“Debbie, Rony!”
Terdengar suara ibu Wenny yang mulai memasangkan murid-murid untuk melakukan lintas alam. Terdengar sorak riang di sampingku. Debbie akhirnya mendapat impiannya. Rony adalah ketua klub futsal,yang pastinya sangat dikagumi cewek-cewek. Setelah aku mengucapkan selamat kepadanaya, dia berjalan ke tengah lapangan untuk bergabung dengan Rony. Bu Wenny member beberapa instruksi, kemudian menyuruh mereka pergi.
“Felicia, Felix”
Langsung terdengar suara tawa di lapangan tersebut. Tak disangka, Feli harus berpasangan dengan cowok yang merupakan rival beratnya di mata pelajaran. Persaingan mereka sudah terkenal diseluruh sekolah. Setelah mereka berdua saling melototi, mereka pun pergi menyusuri jalan yang diperintahkan.
“Dinda,Aditya”
Aku tersentak ketika namaku dipanggil, apalagi ketika nama Adit juga dipanggil. Kami berdua maju, dan setelah menerima instruksi dari ibu Wenny, kami berdua berjalan meninggalkan lapangan dan masuk kerimbunan hutan.
Berbeda dengan di lapangan, sekarang suasana hening. Baik aku maupun Adit diam tak bersuara. Hal itu tetap berlangsung sampai kami tiba di aor terjun. Bunyi gemuruh air terjun yang luar biasa keras memecah kasunyian itu. Kami memandang berkeliling,mencari petunjuk yang di tinggalkan oleh kakak pembimbing, tanpa memperdulikan yang lainnya.
Mendadak, terjadi kejadian yang sangat mengejutkan. Aku berhasil menemukan gulungan kertas yang terletak di sebuah batu pipih, dan ketika aku baru saja mengambilnya, sesuatu berwarna hitam meluncurbdari balik batu dan langsung menghadapku. Ular! Aku hanya bisa bergeming, karena siapa tahu ular agresif dan akan menyerang apa saja yang menurutnya mengancam. Sambil berdoa, aku melirik ke sekelilingku. Aku terpojok di pinggir air terjun, di belakangku hanya ada air yang berarus deras.
Kemudian, aku menangkap sebuah gerakan di sampingku. Adit! Kelihatannya dia sudah melihatku dan berusaha menolongku. Sambil menahan nafas, aku menyasikannya menyodok ular tersebut untuk mengalihkan perhatiannya, dan memberiku kesempatan untuk melarikan diri.
Aku berlari beberapa meter, sebelum menoleh ke belakang untuk mengecek situasi. Adit sedang berusaha untuk mundur, sambil menyodok ular yang kelihatannya mengamuk.anehnya, ular itu tetap mengejar bahkan ketika Adit sudah berhasil menjauh beberapa meter. Bingung antara melapor ke guru atau menolongnya, aku menjerit kecil ketika Adit tersandung dan jatuh.
Ular bergerak mengancam ke arahnya, kemudian menegakkan tubuhnya. Tanpa pikir panjang, aku menghampiri Adit dan langsung menendang kepala ular itu. Bukannya menjauh, ular itu malah makin mendesis liar. Aku langsung mendorong Adit, yang sudah berdiri lagi, kea rah lereng pendek di belakangnya.diiringi dengan teriakan kagetnya aku memandangnya terguling-guling kebawah. Mendadak terasa sengatan yang sangat perih di kakiku dan pandanganku menggelap.
*****
“Tit…tit…tit..”
Bunyi itu, sudah sedari tadi membuat kepalaku pusing. Aku terasa sangat lelahdan mengantuk, tapi aku juga ingin tahu diman sekarang aku berada. Aku terdiam selama beberapa saat, sebelum sedikit sedikit mulai membuka mataku. Putih, sinar putih yang sangat kuat menusuk mataku. Aku mengerjap-ngerjap beberapa kali, dan mulai mengenali ruangan tempat aku berada. Kasur putih,dinding putih, bahkan vas bungapun berwarna putih, dengan jendela yang mengahadap ke gunung. Kelihatannya aku berada di sebuah rumah sakit. Sambil berusaha mengingat kenapa aku bisa ada di sini, terdengar suara dengkuran halus di sampingku.
Aku menoleh dan melihat seorang cowok yang tertidur di sofa di sebelahku. Aku memandangnya sejenak sebelum menyadari dia adalah Adit. Wajahnya pucat dan terlihat lelah seperti kurang tidur. Aku tersenyum kecil melihatnya dalam posisi yang tidak cocok untuknya, tertidur pulas.
Aku menghabiskan waktu dengan membaca, sampai beberapa jam kemudian Adit menunjukkan tanda-tanda terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali sebelum bisa focus. Dia menoleh ke arahku dan terlihat sangat terkejut. Aku hanya member senyum kecil.
“Sudah bangun berapa lama?” ujarnya sambil bangun dan berjalan ke samping ranjangku.
“Sekitar 3 jam”
“Errr, soal kejadian itu, thanks ya. Aku yang nolongin malah aku yang ditolong” dia kelihatannya malu dengan dirinya sendiri.
No problem. Tapi kamu nggak apa-apa kan? Apa yang terjadi?”
“Setelah kamu mendorongku jatuh dari bukit,aku langsung bangun dan memanjat ke atas. Pas nyampe di atas kamu udah pingsan dan berdarah, dan ular itu udah pergi. Jadi aku langsung bawa kamu balik ke kemah, terus kamu diantar sama guru-guru ke sini.”
Diam sejenak, kemudian…
“Apa kamu suka hewan?” Tanya Adit ingin tahu.
“Ya. Bahkan mungkin aku bakal milih jurusan Biologi, soalnya cita-citaku jadi dokter hewan.”
“Sama dong dengan aku. Mungkin nanti kita bisa masuk ke universitas yang sama”
“hehe, lucu juga ya. Kita sama-sama pendiam dan sama-sama suka hewan, tapi tadinya kita saling mendiamkan satu sama lain.”
“Soal itu, maaf. Aku itu orangnya cuek sama orang yang belum aku kenal, pasti orang itu bakal aku diamkan. Tapi kalu mau jujur aku baru kali ini bisa ngomong senyaman ini denganmu.”
Mendengar perkataannya wajahku mulai tersipu malu. Kelihatannya dia juga grogi, karena detik berkutnya dia pamit dan pergi pulang. Katanya sih mau melapor ke ibu Wenny soal kondisiku. ‘Hmmm, kapan ya bisa ngobrol enak kayak gini lagi…’, pikirkudengan senyum dikulum. 
*****
      Di sekolah beberapa minggu kemudian…
      “Dinda!”
      aku menoleh dan menyadari bahwa Adit yang sedang memanggilku. Dia terlihat gugup, jadi aku yang menghampirinya.
“Boleh aku bicara denganmu?”
“Boleh, tentang apa?”
“Nanti malam mau pergi nonton bareng?”
“Sama siapa?”
“Berdua saja”
Aku terkejut mendengar perkataannya, sebelum mengganguk pelan.
“Okey, sampai jumpa nanti jam 7 malam. Aku yang jemput.” Lalu dia langsung bergegas pergi.
“Wah, ada apa ini? Tumben kalian dekat?” mendadak Debbie dan Feli menghampiriku sambil cengar-cengir. Kelihatannya mereka menguping. Dengan muka memerah, aku hanya berjalan menjauhi mereka seraya menlambaikan tangan.
‘Ah, hari-hari berikutnya akan sangat indah!’ bisikku dengan hati yang berbunga-bunga seraya melangkah pergi dengan lompatan dengan langkah-langkah seperti menari.’Ahaaiii’ aku tak kuasa menahan senyum lebarku lagi………………THE END

Rabu, 07 November 2012

HAPPY BIRTHDAY ULFAH :)


selamat ulang tahun sahabatku 
semoga hari-harimu kedepan lebih bahagia
meski ada sedikit rintangan anggaplah itu hanya cobaan untuk semakin menguatkan imanmu 
sekali lagi happy birthday 

selamat ulang tahun ULFAH PUTRI UTAMI :)